Ngenest (2015)

Poster-NGENEST-The-Movie

 

“hidup itu kayak filosofi tokai, yang lo harepin belum tentu terwujud, yang lo takutin belum tentu kejadian.” Patrick.

 

Sebenarnya nonton film ini udah seminggu lalu sih, tepatnya tanggal 1 Januari 2016. Tapi karena kuliah lagi padet-padetnya (akibat ujian yang semakin mendekat) barulah sempet nulis review-nya sekarang. Agak terlambat memang, tapi ya daripada nggak sama sekali kan. Silahkan menyimak..

151230004301215-ErnestPrakasadalamfilmNgenest-ist

Ernest muda, beda banget ya sama sekarang?

 

Mungkin teman-teman sudah pada tau tentang film yang akan saya review ini, ‘Ngenest.’ Film ini diangkat dari novel karya Ernest Praksa mengenai kehidupan dirinya. Film ini menceritakan mengenai bagaimana kehidupan Ernest dari mulai dia SD hingga akhirnya punya anak pertama. Perjuangan Ernest yang notabene-nya Cina, bertahan ‘hidup’ dari segala macam bullying karena jadi kaum minoritas di Indonesia. Usaha Ernest untuk mencari orang pribumi sebagai pendamping hidupnya agar memutuskan rantai bullying terhadap kaum minoritas yang ia rasakan.

041007900_1452257684-ngenest_10

Kali pertama Ernest ketemu sama orang tua Meira

Film ini disutradarai dan diperankan oleh Ernest Prakasa sendiri, lalu ada Lala Karmela menjadi Meira (istrinya Ernest), dan Morgan Oey sebagai Patrcik (sahabat Ernest). Selain itu ada jug Olga Lidya dan Feri Salim sebagai kedua orang tua Ernest, Ge Pamungkas, Angie, Awwe, Adjis Doa Ibu sebagai teman-teman Ernest, Mukhaldy Aco sebagai dokter kandungan dan pemeran bantu lainnya.

Untuk saya pribadi sebagai pencinta Stand Up Comedy dan hampir semua karya Ernest memang sangat menunggu film ini untuk tayang di bioskop. Setelah nonton pun saya keluar ruang bioskop dengan hati senang, dan sirik karena melihat chemistry Ernest dan Lala, bisa terbayang deh perasaan Meira asli ketika melihat film ini. Selain itu unsur komedinya sangat terasa, saya bisa tertawa sangat lepas selama film tayang, seluruh pemain bisa membuat film ini semakin lucu, terutama tukang cilok yang beberapa kali mengomentari perilaku Ernest.

Kelebihan lainnya dari film ini adalah acting para pemain yang terasa maksimal namun tidak berlebihan. Thanks to film ini yang membuat saya tau kalau Morgan Oey memang bisa acting (maklum saya tau Morgan hanya waktu dia bergabung di SM*SH). Acting Ge Pamungkas, dan Mukhaldy Aco juga tidak kalah kerennya. Logat Makassar Aco dan acting Ge sebagai orang yang cameuh (read : bibir bawah atau dagu menjulur ke depan) harus diacungi jempol. Untuk beberapa orang yang lebih memahami dunia perfilman mungkin ada yang terganggu dengan sisi drama dari film ini (hasil googling review orang lain). Tapi untuk saya pribadi, Ernest cukup membuat sisi dramanya dengan baik, menyentuh, dan lagi-lagi tanpa terlihat berlebihan dan maksa.

ngenest-watch-out

Salah satu adegan yang cukup untuk nahan air mata.

Overall, sebagai debut pertama Ernest menjadi sutradara, film ini cukup menjanjikan dan sangat menghibur para penontonnya. Ia dapat dikatakan sangat mampu untuk mengarahkan semua pemain yang terlibat di dalam film termasuk figuran, sehingga membuat film menjadi sangaat sangat sangat lucu.

Selamat Koh, ditunggu karya-karya selanjutnya. Sutradara lain harus memperhitungkan Ernest Prakasa nih sebagai sutradara!

 

Score : 8.5/10

Sumber Gambar : google.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s